Pertama, Mari Belajar dari Cabai
Cabai yang kita makan setiap hari bukan serta merta ada begitu saja. Proses penemuan cabai sampai akhirnya dikenal dan dikonsumsi bukanlah melalui waktu yang singkat. beratus-ratus tahun setelah ditemukan partama kali, barulah cabai dikenal sebagai salah satu pemberi rasa yang istimewa pada makanan. Rasa pedas cabai menjadikannya sumber bahan pokok pembuatan sambal. Tanpanya banyak makanan menjadi hambar di lidah. kalau dibayangkan bagaimana dunia ini tanpa cabai, ahhh rasanya saya tak sanggup membayangkan... :-D
Lalu bagaimana proses penemuannya?
Dikisahkan ada seorang lelaki sedang mencari hewan buruan di tengah rimba lebat. Karena tak pula mendapatkan buruannya, dia mencari buah untuk dimakan. Ditemukanlah buah yang unik yang belum pernah ditemukan oleh siapapun. Bentuknya panjang, ada yang berwarna hijau ada pula yang kuning dan merah (sekarang ini kita kenal dengan cabai).
Karena si lelaki ini lapar dipetiklah beberapa buah untuk dimakan. Setelah dimakan, silelaki keherahan dengan rasa dilidahnya. Sambil terus dikunyah rasa aneh itu semakin menjadi. "Wah buah macam apakah ini? Rasanya aneh, menyengat lidah ! Panas! Perih di lidah! Uhhh" Ucapnya dalam hati. Ternyata si lelaki merasakan pedas di lidahnya. Pedas yg begitu sangat. Langsung saja cabai yang dikunyahnya itu dimuntahkan. "Wah rasanya aneh, sangat tidak enak !!! Sepertinya ini buah beracun !!!", Kembali si lelaki mengeluh dan marah. saking pedasnya dia merasa telah memakan buah beracun, langsung ia pulang ke rumah dan mengatakan kepada semua orang untuk tidak memakan buah beracun itu. Akhirnya buah itu dikenal dengan buah beracun. Bahkan ketua suku memutuskan untuk melarangan bagi masyarakat untuk memakan buah itu karena takut keracunan. Masyarakat pun patuh dan menghindari sejauh mungkin kontak dengan buah beracun dan terlarang itu.
Seratus-dua ratus tahun berlalu, orang masih meyakini buah itu adalah beracun.
Sampai suatu ketika ada seorang anak kecil memetik buah itu untuk dimakan. Namun kali ini, si anak memakan buah itu bersamaan dengan daging hewan buruan yang di panggang. Karena ketidaktahuannya tentang buah itu si anak terus memetik dan memakannya. "Wah enak sekali makan daging panggang ini kalau diselingi buah ini", berkata si anak dalam hati. Sampai tiba tiba ada beberapa orang yang datang dan langsung memarahi si anak karena ketahuan memakan buah terlarang itu. "Hai, apa yang kau lakukan? Kau bisa mati makan buah beracun itu. ! Sudah berapa banyak yg kau makan?", tanya salah satu orang disana.
"Buah ini sangat nikmat, kenapa saya harus takut mati karena memakannya? Dan dari mana bapak tau buah ini beracun?",sahut si anak kecil.
"Tidak nak kamu akan keracunan karena memakan buah itu" jawab salah satu orang.
Namun apa yang terjadi ? Sehari, dua hari, dan seminggu berlalu. Si anak tidak keracunan, dan bahkan mengatakan bahwa rasa panas dan perih di lidahnya hanya berlangsung sesaat bahkan yang timbul adalah kenikmatan rasa yg lebih dilidahnya saat memakan daging panggang saat itu.
Karena penasaran, ketua suku dan beberapa orang mencoba sendiri bagaimana rasanya. Dan setelah mencoba, barulah dia dan semua orang menyadari bahwa buah tersebut tidak beracun. Dan justru memberikan rasa yg lebih enak pada makanan. Karena memberikan rasa yg enak, mulai saat itu buah itu sering digunakan untuk memberikan rasa pedas pada makanan. Hampir semua masakan dan makanan menggunakan buah itu. Hingga sampai akhirnya masyarakat bergantung pada buah ini. "Tidak ada cabai, tidak makan !". sampai saat ini, kita tak bisa lepas dari kebutuhan akan cabai dan rasa nikmatnya.
Cabai itu buah beracun, adalah persepsi awal yang tidak di dukung oleh pembuktian fakta nyata tentang racunnya.
Cabai itu buah yang memberikan rasa nikmat dan tidak beracun, adalah fakta yang telah di temukan dan dibuktikan langsung.
Dimana hikmahnya?
1. Sebagai pemimpin, lebih eloknya bersikap tabayyun. Tabayyun adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.
Kepala suku mestinya tidak tergesa gesa memutuskan bahwa buah itu beracun kecuali telah menyelidikinya.
2. Sebagai pengikutpun kita dilarang untuk Taqlid. Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya.
Orang2 yang melarang anak itu makan cabai mestinya tau kenapa buah ini dilarang dan seperti apa dampak racun dari buah itu.
3. Sesuatu yang di ciptakan Allah adalah rahmat untuk manusia.
Bagaimapun awalnya cabai dikira racun, namun akhirnya terbukti cabai adalah salah satu nikmat dari-Nya. Bayangkan kalau saat ini cabai masih disangka buah beracun. !
4. Yang kita kenal buruk, belum tentu sesungguhnya buruk. Apapun itu. Kebenaran sejati hanya di sisi-Nya.
Ini bukan kisah nyata, hanya saja mungkin ada hikmahnya.
Wallahu a'lam
:-)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar